“Laki-laki semuanya sama! Brengsek!” dia itu ingin memaki sejujurnya tanpa totem pro parte. Jelas sekali, dia hanya ingin memaki seseorang. Seseorang tertentu. Particular person. Tapi dia pengecut, tak berani. Entah menciut karena sesungguhnya ketakutan untuk memaki atau ia hanya berani memaki lewat kata-kata. Menyamar. Mengabur. Menukar dengan kata ganti.
Jangan remehkan insting. Dia tahu siapa orangnya.
