Ning

Nama yang singkat namun terdengar manis. Ning, teman perempuan yang aku kenal dahulu ketika aku masih pakai seragam putih abu-abu. Kuhabiskan dua tahun sekelas dengannya. Yang kutahu darinya ia hanyalah gadis bersenyum manis dan teman-temannya kebanyakan lawan jenis. Tak banyak interaksi, denganku.

Yang kuingat, ia selalu duduk di belakang. Kadang duduk dengan teman laki-laki, yang dahulu masih seperti tabu. Entahlah apa yang ada di pikiran kami, duduk atau terlalu banyak bergaul dengan laki-laki seperti sesuatu yang aneh dan menjijikan. Stigma “boys have cooties” masih melekat di otak kami waktu ituTapi, Ning tidak gentar.. Ia hanya menyisakan banyak tanya diantara teman-teman perempuan lain. Kenapa ia tidak merasa risih bersebelahan duduk dengan laki-laki? yang sehabis pelajaran olahraga pasti bau atau sehabis istirahat makan siang pasti akan tidur di kelas ataupun tertawa keras-keras di belakang saat tak ada guru masuk kelas. 

Ning, dengan badan yang kecil namun tidak terlihat ringkih, selalu ceria. Aku masih ingat dia seringkali teriak dengan suara ultracempreng menagih iuran kas kelas setiap hari Jum’at yang sukses berakhir dipakai beli sapu, kemoceng, taplak meja motif batik untuk meja guru, kertas hiasan sekedar organigram dan mading kelas, serta kipas angin yang membuat kelas kami kelas termahal satu angkatan. Ning alasannya. Ia, katakan galak, dan aku sendiri tak berani tak bayar iuran kalau Ning sudah nongkrong di depan mejaku sambil menenteng-nenteng catatannya. Dulu, aku sering berpikir ia cocok jadi debt collector. Tapi, ia sekarang jadi sarjana elektro. 

Ning yang ceria dan berbadan kecil selalu mengingatkanku dengan perjalanan hebatnya menaklukan gunung. Pantas saja temannya kebanyakan golongan Adam,  ekskul Ning adalah pecinta alam. Tak tanggung, ia sekretarisnya. Aku ingat bagaimana ia latihan memanjat di papan panjat depan sekolah. Aku ingat bagaimana ia membawakan aku edelweiss sepulang ia turun gunung. Tak banyak bicara, hanya berujar, “Kamu mau edelweiss ngga?”. Aku hanya mengangguk dan berterima kasih. Hampir tujuh tahun kemudian atau sekarang, aku tak ingat lagi dimana bunga itu aku letakkan. 

Sepenggal ingatanku tentang Ning. Dua tahun aku mengenalnya di ruang kelas. Dengan sangat tak dekat. Kemudian, aku tak pernah tahu ia akan jadi seperti sekarang.

Ning ada di televisi, jadi narasumber sebuah acara bertema kemanusiaan.