geleng-geleng kepala
Hape saya bunyi sekitar jam 11. Ada telepon. Saya sendiri kaget yang nelpon dosen pembimbing saya. Jam 11 malem?? ada apa ini?? TA saya kah??? Ibuu, ini lagi ngerjain progress report!! waaa.. jangan beri saya E!! *berlebihan banget lah gue*. Saya pun angkat sambil agak heran. Tentu dengan nada yang sedikit saya rendahkan biar terdengar sangat sopan. Bagaimanapun, semalam apapun, semengganggu apapun, yang nelpon usianya lebih tua dari saya. Dan beliau dosen pembimbing saya. Apalagi kalau yang nelpon ibu saya sendiri.
Jam 11 malam. Ya, waktu yang ga normal buat orang saling ngobrol. Kecuali sama pacar ya.. apalagi yang LDRan. Jam 11 malam, dosen saya curhat. Ada mahasiswa meminta kebaikan hati ibu dosen menaikkan nilainya. Saya tahu mahasiswa itu. dia mengulang mata kuliah yang ibu dosen saya ini ajar dan kelasnya saya asistenin. Tapi saya ga pernah ngeliat dia di kelas. Dia ga pernah masuk. Apalagi baca tugasnya. Saya ga pernah baca. Ya, jelaslah, nilainya sudah mengkhawatirkan.
Yang lebih aneh. Ibu dosen pembimbing saya itu curhat, mahasiswanya itu ngehubungin beliau dari jam 7 malam hingga sampai saat ibu dosen memutuskan cerita ke saya.
“Sar, kalau kamu diteror juga bilang aja nilainya udah ga bisa diubah.. just in case.. Maaf ya, saya telpon malam-malam nih.. saya kaget juga nih…”
Diteror mahasiswa. Baru kemarin saya juga disms seorang mahasiswa di kelas yang ehem, sama.. meminta dengan polos, “kak, saya mau tau nilai.. boleh di email ke saya?” . Saya bingung. Kalau mau saya kasar, saya responnya begini saat itu, “buset, sape eluu?”. Dan waktu dialognya diteruskan, agak sedikit konyol. Menandakan dia begitu polos. Sangat polos dan tidak sopan.
Kemanakah etika orang-orang sekarang? Kemanakah orang-orang sopan? Saya jadi suka mikir, SMS adalah salah satu cara menurunkan etika orang-orang. Mungkin, sekali lagi bahasa tulisan layaknya SMS atau chatting memang bagai pisau bermata dua. Bisa bilingual. Apa yang ditulis salah dimengerti orang yang dituju.
But hey, give me a break. Saya merasa kasihan, cerita seperti ini ga satu-dua. Dan saya kayaknya udah sering posting soal beginian di sini. Saya udah pernah denger juga cerita orang lain yang serupa. Buat yang udah baca bukunya Indra Herlambang, pasti pernah denger cerita serupa. Jadi, Indra Herlambang cerita di bukunya Kicau-Kacau, tentang ketidaksopanan adik angkatannya minta sumbangan 50 JUTA (LIMA PULUH JUTA) lewat sms yang disingkat-singkat. Worst, nama Indra Herlambang pun disingkat.
Duh. Rasa-rasanya saya ga pernah sms begitu sama dosen. Tengah malam apalagi. Dosen juga manusia lah. Apalagi posisinya di kampus itu dihormati, disegani. Sekalipun itu dosen muda yang baru lulus PhD kemaren sore. Dekat boleh tapi jelas ada batasnya.
Sekedar pembelajaran bareng-bareng buat junior-junior. Ada baiknya bahasa SMS ke dosen diperhatiin sekali lagi. Apa sopan? Apa menganggu? Urgensinya seperti apa? Kita mahasiswa, sudah pintar lah bagaimana berbicara. Adik-adik mahasiswa tingkat 1-3, kalian bukan anak SMA lagi. Sudah terhitung dewasa meski ada yang sebagian dari kalian adalah anak-anak akselerasi. Ga ada kalimat manja. Kalau masih ga bisa, berarti saya benar. Zaman anak muda sekarang adalah generasi manja. Termasuk saya.
Hmm, jadi kepikiran, sekali-kali materi gini lah yang diajarin pas OSJUR.