kita (mungkin) 50 tahun lagi.

Aku masih ingin sekedar ditemani belanja kebutuhan sehari-hari lagi, ditemani olehmu. Kita menyusuri lorong-lorong supermarket itu, mencari mana barang yang lebih murah dan berpura-pura menjadi sepasang suami istri. 

Bagaimana kau membawakan meski-hanya dua kilo beras yang kubeli, dengan gagahnya, kau menawarkan diri untuk membawakan itu. “Semacam barbel, lumayan..” ujarmu sambil diiringi tawa. Aku juga ingat bagaimana kau mendorongkan troli saat aku terlalu sibuk mencentang ceklis belanjaan itu. Kau berkelakar, “Lampu di rumah masih ada, Mah? Kita beli apa lagi ya?”

Aku tersenyum malu-malu. Kau tak tahu apa yang kupendam waktu itu. Tubuhku memendam endorfin yang melunjak, aku bahagia meski kita berpura-pura jadi suami dan istri. Kau masih tak tahu apa yang kupendam.

Dan aku ingin ditemani sekedar pergi menelusuri lorong-lorong itu hingga kita tak sanggup lagi untuk berjalan menyusuri lorong-lorong itu. Dengan kondisi, kita sudah menjadi kita, kau adalah suaminya dan aku istrinya. Tak lagi pura-pura, kau masih tetap akan mendorongkan troli dan aku sibuk memilih barang. Aku pasti akan cerewet tentang barang ini atau itu. Kau juga ribut aku tidak boleh sembarangan beli macam-macam. Aku juga akan cerewet tentang ini itu ketika memilih sayuran, dan kau akan menatap aku penuh cinta, dengan kelakarmu yang biasanya, kau berkata, “cepat pilih sayurnya, aku lapar berat, Sayang..” atau kau ikut-ikutan serius memilih sayur mana yang ingin kau makan. Diskusi tentang apa yang akan kita makan malam nanti.

Atau, aku menggamit lenganmu yang besar itu, yang pernah kau tawarkan padaku sebelum-sebelumnya padahal lenganmu masih kurus hanya tulang.  

Oke, aku akan menggamit lenganmu, sekeliling kita adalah pasar. Pasar tradisional yang semoga sudah berkembang sedikit lebih canggih dan tidak kumuh. Bosan aku pergi ke supermarket, harganya sudah semakin menjulang.  Kembali, kita memilih apapun itu, aku yang ingin kau di sebelahku, menemani aku. Lalu pulang, dengan pikiran masing-masing. Menghabiskan lagi malam yang semoga tak akan pernah bosan kita lewatkan.

Mungkin juga, aku ingin, kita menyusuri pasar-pasar loak itu. Mencari barang antik seperti vinyl-vinyl cantik itu. Aku cinta sekali barang antik, kau tahu itu.

Mesin ketik, buku-buku tua, vas bunga atau radio tua.

Kau akan tersenyum sambil merangkul pundakku, mengangguk padaku atau menggeleng tak setuju saat mataku berbinar melihat buku tua dari Rusia atau vinyl Edith Piaf.

Seperti saat itu, kau menemani aku yang berbinar-binar melihat pemutar piringan hitam, lalu aku beli secara tiba-tiba. Padahal waktu itu, kau yang minta antar pergi tapi aku yang belanja. Kau tersenyum, membandingkan kegilaanku denganmu saat aku yang gantian bengong kau borong seperangkat Pentax. Kita tenggelam, menggila, bersama.

Lalu, mungkin kita akan punya pekarangan di belakang rumah. Tempat aku akan mendengarkan musik dan mengetik sebongkah ide menjadi buku. Sementara kau akan melukis. Aku ingin menemanimu melukis, meski sampai nanti aku tak akan pernah tahu apa komposisi garis, warna dan bahkan goresan. Aku masih ingin pergi lagi ke galeri lukis, sambil kau berbinar menceritakan interpretasimu tentang seni. Aku akan hanya terpana lalu merengek pulang ketika jam sudah sangat larut. Ketika kaki kita pegal, dan kusuguhkan kembali dua cangkir susu hangat.

Bicara tentang susu, kau adalah makhluk ajaib yang tak suka susu dicampur keju. Kita adalah manusia penganut aliran serupa karena aku pun mual makan keju dan susu. Maka, mungkin aku tidak akan masak pasta untuk makan malam kita. Tidak akan sepertinya, ritual makan pasta itu mungkin hanya terjadi satu tahun sekali atau saat kita pergi ke Eropa menjenguk anak kita.

Meski begitu, aku masih ingin melihat kau melahap habis semua makanan karena kau adalah orang yang aku kenal sanggup makan apa saja. Bahkan termasuk mau berkorban. Termasuk nasib saus kacang yang tak kau sukai ketika kita pergi sarapan bersama kala itu. Sambil menahan mual, kau masih saja tersenyum begitu tahu aku yang suka. Kau juga bukan kaum antisayur atau antidaging, kau adalah ‘omnivora’ meski kau juga akan kembung ketika makan lada dan terkentut-kentut.

Aku baru tahu, ketika kau bercerita dengan seriusnya sambil mencampurkan setengah botol saus cabai pada semangkuk mie waktu itu.  Bahwa kau bisa makan cabai, tapi tak bisa makan lada. Selera makan kita berbeda, karena aku tak suka cabai. Dan untuk itu, mungkin aku ingin belajar memasak dengan cabai. Supaya kau bisa tetap makan, atau sekiranya saus cabai itu akan ada dalam ceklis belanja bulanan kita. Aku mungkin juga akan belajar makan cabai sementara kau juga akan makan kacang.

Sesekali, kau juga akan memasak, memberi kejutan untukku seperti kau bisa-bisanya membuatkanku bubur terenak sedunia waktu kubilang aku sakit. Kau tak sempat bilang kalau kau tak bisa memasak. Lalu kau datang ke rumahku, mengetuk pintu kamarku, menemukanku yang menjerit malu kau datang ke rumahku. Aku tak mau makan, tapi kau memaksa. Dan bubur itu adalah bubur terenak sedunia.

Biarlah kau tak bisa main gitar, tapi kau tahu beda lengkuas dan jahe, yang mana kencur dan kunyit, atau ketumbar dan lada. Biarlah, kau juga tak seperti bapak-bapak lain yang bangun tengah malam untuk nonton bola karena kau memang berbeda. Tapi kau mungkin akan membangunkanku untuk shalat malam berjamaah dan mungkin aku yang menonton bolanya, sementara kau akan kembali tidur atau menemaniku sambil terbalik bengong sama seperti aku mendengar interpretasimu tentang lukisan. Biarlah, kau juga anomali tak suka naik gunung, kau lebih senang berlumur oli berkutat dengan motor di garasimu atau menggambar sketsa di atas meja kerjamu. Meski kau akan risih, ketika si Abu kucing peliharaanmu mengeong manja.

Mungkin, kita akan tetap menjadi kita. Menjadi bijaksana, menjadi dewasa dan kita tetap bersama. Mungkin, hingga 50 tahun ke depan. Entah, hidup masih berlanjut atau tidak, terwujud atau tidak.

Tapi tahukah rumah yang kutuju? Itu kau..

Ning

Nama yang singkat namun terdengar manis. Ning, teman perempuan yang aku kenal dahulu ketika aku masih pakai seragam putih abu-abu. Kuhabiskan dua tahun sekelas dengannya. Yang kutahu darinya ia hanyalah gadis bersenyum manis dan teman-temannya kebanyakan lawan jenis. Tak banyak interaksi, denganku.

Yang kuingat, ia selalu duduk di belakang. Kadang duduk dengan teman laki-laki, yang dahulu masih seperti tabu. Entahlah apa yang ada di pikiran kami, duduk atau terlalu banyak bergaul dengan laki-laki seperti sesuatu yang aneh dan menjijikan. Stigma “boys have cooties” masih melekat di otak kami waktu ituTapi, Ning tidak gentar.. Ia hanya menyisakan banyak tanya diantara teman-teman perempuan lain. Kenapa ia tidak merasa risih bersebelahan duduk dengan laki-laki? yang sehabis pelajaran olahraga pasti bau atau sehabis istirahat makan siang pasti akan tidur di kelas ataupun tertawa keras-keras di belakang saat tak ada guru masuk kelas. 

Ning, dengan badan yang kecil namun tidak terlihat ringkih, selalu ceria. Aku masih ingat dia seringkali teriak dengan suara ultracempreng menagih iuran kas kelas setiap hari Jum’at yang sukses berakhir dipakai beli sapu, kemoceng, taplak meja motif batik untuk meja guru, kertas hiasan sekedar organigram dan mading kelas, serta kipas angin yang membuat kelas kami kelas termahal satu angkatan. Ning alasannya. Ia, katakan galak, dan aku sendiri tak berani tak bayar iuran kalau Ning sudah nongkrong di depan mejaku sambil menenteng-nenteng catatannya. Dulu, aku sering berpikir ia cocok jadi debt collector. Tapi, ia sekarang jadi sarjana elektro. 

Ning yang ceria dan berbadan kecil selalu mengingatkanku dengan perjalanan hebatnya menaklukan gunung. Pantas saja temannya kebanyakan golongan Adam,  ekskul Ning adalah pecinta alam. Tak tanggung, ia sekretarisnya. Aku ingat bagaimana ia latihan memanjat di papan panjat depan sekolah. Aku ingat bagaimana ia membawakan aku edelweiss sepulang ia turun gunung. Tak banyak bicara, hanya berujar, “Kamu mau edelweiss ngga?”. Aku hanya mengangguk dan berterima kasih. Hampir tujuh tahun kemudian atau sekarang, aku tak ingat lagi dimana bunga itu aku letakkan. 

Sepenggal ingatanku tentang Ning. Dua tahun aku mengenalnya di ruang kelas. Dengan sangat tak dekat. Kemudian, aku tak pernah tahu ia akan jadi seperti sekarang.

Ning ada di televisi, jadi narasumber sebuah acara bertema kemanusiaan. 

Ungu

Ungu. Cih, sekali lagi aku benci warna itu.

Aku bahkan memalingkan wajahku saat tak sengaja melihat orang lain terbalut pakaian dari kepala hingga kaki dengan warna paduan merah dan biru itu. Aku benci warna ungu. Kebetulan, aku tak bisa makan blueberry. Aku mensyukuri keanehanku sendiri, aku jadi tidak makan sesuatu berwarna ungu. Konyol? Terserah. Aku memang benci warna ungu.

Aku benci warna ungu. Aku benci segala sesuatu berbunyi ungu dan terlihat ungu. Aku sudah tak percaya ungu itu anggun. Dan sekali lagi aku bersyukur, ungu berbaur dengan warna lain sehingga saat aku melihat cahaya putih aku tak melihat hanya ungu yang fokus ditangkap retinaku.

Aku muak pada ungu.

Sependengarku, sepengetahuanku, orang-orang banyak berkata bahwa benci dan cinta memang tipis bedanya. Kelewat benci orang jatuh cinta, kelewat cinta orang juga bisa benci. Aku mengaku supaya aku tak munafik. Dengar, aku dulu pernah cinta dengan si ungu. Cih, aku juga tak mengira. Kau tahu? aku pernah mengumpulkan segala sesuatu yang terwarna ungu. Aku bahkan sangat suka dengan langit senja yang ungu. 

Dahulu. Sekarang sudah tinggal tapi. 

Aku ingin membakar unguku, membara dalam merahnya api lalu menjadi arang yang hitam. Legam. Tak bersisa.

Aku benci warna ungu.

Jujur, aku ingin sekali menjawab tanpa argumen ketika orang bertanya kenapa. Aku tak ingin menjawab dengan alasan. Kenapa kebencian harus diiringi alasan ketika untuk mencinta pun tak butuh alasan? Aku tak ingin menjawab dengan banyak alasan.

Aku tak ingin menjawab dengan banyak alasan!

Tapi tak bisa.

Aku benci ungu. Benci hingga membujur dari ubun-ubun turun ke kaki.

Karena aku lebih dari tahu, kau yang kulewat kucinta menjadi ungu demi dia. Dia yang terbalut manis dalam gaun bunga warna ungu. Dia yang selalu terlihat ungu. Dan aku hanya bisa diam menunggu kau tidak lebih jauh lagi merasuk.

Dan aku benci ungu. Benci hingga gemetar badanku menahan.

Karena aku juga tahu, apa yang telah lalu juga jatuh cinta pada ungu. Apa yang telah lalu yang habis dicinta lalu dibenci. 

Ruang

Ah saya tak pandai mengukur bidang, saya tak bisa mengira berapa panjang kali lebar kali tinggi ruangan ini. Yang jelas di dalam sini, saya bisa menemukan orang-orang saling riuh rendah mengelu-elukan orang-orang yang berlarian merebut gelinding bola. Ada dua kubu. Warna abu-abu dan warna biru tua. Saya sendiri tidak memihak, saya hanya pengamat. Tapi bukan, bukan pengamat permainan olahraga ini, tapi saya hanya mengamati ruang. 

Ada si tuan berkaus ungu pupus diantara puluhan sorak sorai abu-abu yang lainnya. Tuan berkaus ungu pupus adalah si penggembira. Ia adalah teman laki-laki saya yang saya kenal tidak suka dengan sepak bola. Unik, sepak bola biasanya identik dengan laki-laki. Ia pencilan. Biarlah. Saya tahu kenapa ia datang. Tuan berkaus ungu pupus yang jatuh cinta dengan nona berlesung pipit. 

Riuh rendah penonton masih menggema. Pertandingan makin seru. Skor 0-0, tapi tadi ada penyerang yang hampir mencetak gol, sayang bolanya terpantul gawang. Meleset. Makanya, ruangan ini semarak.

Saya memerhatikan nona berlesung pipit. 

Nona berlesung pipit yang berdiri jauh dari pengagum rahasianya. Sayang, Nona berlesung pipit jatuh cinta pada sepakbola. Ia begitu menikmati pertandingan, dengan jaket abu-abunya ia melebur dengan abu-abu lainnya. Bersorai, meneriakkan semangat, bertalu-talu. Nona berlesung pipit tidak tahu Tuan berkaus ungu pupus mencuri pandang padanya. Ia hanya tahu pertandingan babak pertama tinggal beberapa detik lagi. 

Ruangan ini masih ramai. Talu-taluan dan teriak-teriakan suara berat membahana layaknya ini adalah turnamen tingkat dunia. Euforia. Biarlah. 

Saya melihat Tuan berkaus ungu pupus sekali lagi dari kejauhan. 

Petak lapangan dadakan itu melenggang, penonton sedikit menyepi. Babak kedua dimulai sebentar lagi. 

Saya mengalihkan pandangan pada Nona berlesung pipit. Ia melihat si Tuan memandanginya. Ia tersenyum. Mereka saling tersenyum. Nona berlesung pipit pandai menjaga rahasia yang ia tidak ketahui ternyata sangat menyakitkan.

Pada detik babak kedua dimulai, saya selesai memandangi ruang besar ini juga makhluknya. Saya tidak ingin melanjutkan keberadaan saya di ruang ini. Saya akan pulang. Biarlah..

Biarlah..

Kalau

“Perfect!” seru Niah bangga dengan tangan belepotan bumbu masakan. 

Niah memandang kotak makan siang yang berisi nasi merah dan segala tambahan protein lengkap itu. Ia puas hasil menatap kerjaannya dari setengah jam yang lalu. Bikin makan siang. Pakai akhiran -in, karena Niah memang bikinin makan siang buat seseorang. Buat Jalu. 

Jam masih jam 10 pagi, Niah tahu Jalu kuliah siang. Dan hari itu Niah ga ada jam kuliah sama sekali. Maklum, sudah tingkat akhir atau teman-temannya bahkan dirinya sendiri sering menyebut swasta plesetan mahasiswa stress TA. Niah buru-buru bersiap. Ia mau nekat. Perbuatan nekat sepanjang hidup Niah, selama ia tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. 

“Oke, gue bakal ke kostan Jalu.. ” Gugup, Niah gugup. Ia berjalan ke arah pangkalan tukang ojek. Jarak antara kost-an Niah dan Jalu cukup jauh, dan Niah nekat bahkan sampe rela bayar mahal buat sekedar bayar jek. Nekat cuma buat kasih surprise buat Jalu-si calon engineer itu-yang belakangan mencuri pikiran Niah.

Gila juga gue! Berani-beraninya dateng ke kosan si Jalu. Bawain makanan. Kalo si Jalu ngamuk gimana coba? Tapi yang pasti ngamuk sih si Kumala. Dia nyerah kayaknya begitu tau gue nekat kayak gini, apa-apaan nih.. agresif bener jadi cewek! Pikiran Niah bercabang.

Kumala, sahabat Niah yang sepertinya give up atas perasaan Niah pada Jalu. Kumala berkali-kali mengingatkan si lugu Niah. Jalu itu udah ga suka sama Niah. Jalu terpikat sama perempuan lain. Niah harusnya ngerti dan move on dan juga ga usah usik-usik segala sesuatu berbau Jalu lagi.Tapi bukan Niah kalau ngotot. dan garis bawahi, bertindak gila. 

“Neng, ini kemana?” Tukang ojek membuyarkan lamunan Niah. Niah bengong, “Hah? eu.. lurus aja, Mang.. terus nanti belok kanan di Gang 1 ya..” perintah Niah kemudian. Hatinya udah ga karuan. Jantungnya mengakselerasi pemompaan darah di tubuhnya, dan karuan adrenalinnya terpacu. 

“Oke, Mang.. di depan berhenti yah..” Niah menginstruksikan supaya tukang ojeknya berhenti di depan kompleks kostan warna krem itu. 

Err.. terus gue mau ngapain kesini? Semoga kostannya sepiii.. sepi sepi sepi!! Ga ada si Ucup yang reseh dan super kepo itu.. ahh.. Sepii, pleasee… 

Niah memainkan tasnya gugup. Ia tampak seperti orang bodoh. Mungkin bukan tampak, memang bodoh.

Yes!! kostan-nya sepi… Niah, Niah.. gila lo! berani juga elu punya muka sampe mau kesini..

Niah meraih handphonenya. 

“Jalu.. elu dimana?” tanya Niah cepat setelah nada sambungnya terganti oleh suara Jalu yang berat. 

“Di kosan, Ni..” Ya, Niah, nama yang cukup kagok ketika dipenggal jadi dua suku kata. Kebanyakan temennya jadi memanggil Niah dengan YAH, diambil dari potongan  -Ah dari Ni-ah. Niah pasrah, karena pada namanya terdapat huruf Y. Jadi, muncullah panggilan “yah.. yah..”. Dan si Jalu yang memanggil Niah dengan Ni, kadang Nia atau Niah secara lengkap. Niah senang bukan main. Seperti panggilan itu menjadi suatu yang spesial. Meski Jalu juga sering meledeknya, Ni-ni, dan kerap juga diledek Nini Nini. 

“Woi Nini, kenapa?” Jalu bertanya, menganggetkan Niah yang terdiam

“Ehh, elu buka pintu kostan sekarang yah! Gue di depan kostan elu..”

“Hah?”

“Udah cepet keluar yaaa..” Ujar Niah cepat lalu menutup percakapan. 

Tak lama, keluar Jalu dari persembunyiannya. Niah melambaikan tangannya. Jalu menghampiri Niah.

“Gue bawain ini.. bu-buat elu..” ujar Niah gugup. 

Reaksi Jalu tidak bisa dibayangkan oleh Niah. Ia tidak tahu lagi harus membayangkan sejauh mana lagi. Jalu pasti bakalan seneng. Tapi batasan senangnya itu ga bisa dipastikan oleh Niah. Atau mungkin Jalu bakalan kesal? Kesal karena Niah rela merepotkan dirinya dan itu menyusahkan Jalu. Niah tidak tahu. Ia tidak bisa lagi membayangkan seperti apa raut Jalu. Jalu sudah terlalu jauh untuk dijangkau. Atau mungkin ketika Niah muncul, Jalu sudah makan siang. dengan perempuan lain itu. Niah berhenti membayangkan. Sakit memang, tertampar kenyataan. Kemarin siang, ia melihat Jalu berjalan dengan perempuan itu. Meski Niah tahu, mereka sama sekali belum pacaran. atau apalah itu.. 

Niah menuruti apa kata Kumala, ia menyimpan kotak makan siangnya. Membawanya ke kampus, bukan untuk Jalu. bukan untuk siapa-siapa. Mungkin buat Kumala saja. Kalau saja, Jalu tidak tahu perasaannya, mungkin akan berbeda eksekusinya Kalau saja, perempuan itu tidak ada, pasti Jalu ada untuk Niah. Kalau saja, Jalu.. 

pindah

semuanya terasa berat ada sekat tak terlihat yang mengharuskan kita usah bertemu kembali. merasakan kehangatan pada setiap paginya, meletup letupkan perasaan riang, bahkan engkau yang jadi saksi bisu yang setia selalu mendengar sedu sedan atas apa yang aku alami. semuanya seakan mengikat di bahuku serta di kakiku, selalu seperti itu setiap aku harus pergi. kamu akan terlempar menjadi bagian masa laluku, terpak di dalam kardus warna coklat itu. 

aku ingin kita kembali. orang bilang kau tak punya hati, maka aku akan kembali menghias dinding hatimu dengan pernak-pernik unik menurut kita sesuatu yang indah. tidak perlu kata orang lain untuk sebuah justifikasi. kamu tempat aku kembali. kamu tempat aku pulang. aku ingin kita tidak berpisah. 

tapi lubang itu menganga terlalu menakutkan, aku takut untuk berpijak padamu lagi seakan pijakan itu adalah kerikil-kerikil atau baja panas sehingga aku takut. aku gamang. kamu begitu indah, terlalu indah untuk dilupakan..

pun ketika aku harus berhadapan pada hati yang baru. butuh waktu, adaptasi. ketika aku menatapi langitnya, aku akan merasa terasing. butuh waktu, adaptasi lagi. aku mengumpulkan puing-puing lalu kususun serupa. seperti kamu. selalu berbeda, karena kalian tak sama. 

tapi lubang itu terlalu menakutkan. setiap tengah malam aku harus menutupinya, mengobatinya, berpura-pura. cuma kamu yang tahu aku seperti pesakitan, melunta-lunta meminta menyudahi kejadian itu. tapi tak pernah bisa. dan kembali, anehnya kamu tahu aku menangis atau terbahak. 

seberat itu. selalu ada rasa seberat itu. untuk pindah..

menghadapi yang baru terkadang menyenangkan, tapi berpisah adalah hal yang bisa sangat menyakitkan. 

aku pindah sebentar lagi saja, ingin aku menumpahkan sedu sedan dan terbahak padamu bersamamu sekali lagi. aku pindah, apakah aku lebih baik kembali atau mengirimmu ke luar angkasa di dalam kardus coklat itu?

Sepotong cinta di suatu senja

Mendengar cerdas kata-katanya adalah hal yang paling aku nikmati tiap detiknya. Ia sulit terjamah, semakin sulit seperti senja yang makin surut berganti malam. Membaca geriknya adalah hal yang aku inginkan setiap harinya, tapi ia sudah sulit terjamah. Ia berlari secepat mungkin, tidak berani menoleh lagi.

Aku merasa dekat dengannya hanyalah sepersekian detik saja. Ia berubah menjadi alien di duniaku. Merasa kebersamaan itu adalah suatu kesalahan. Tapi tidak, mencintainya bukan kesalahan. Aku masih tidak mengerti, kenapa ia semakin berlari menjauh. Kita tidak satu haluan, melangkah dengan kaki yang beriringan. Sudah tidak. Aku masih sabar dengannya, sementara ia ingin terburu-buru. Ia tidak sabar, aku tidak mengerti alurnya. Tapi, aku seperti diluluhlantakkan olehnya.

Sudah senja, matahari semakin malu-malu. Bumi ini berputar, meroda. Hari seperti biasa, berganti dari siang ke malam. Berganti jam. Waktu bergerak terus-terusan, tidak peduli manusia-manusia yang tamak ingin waktu mundur atau bertambah. Sudah senja, sebentar lagi adzan maghrib bergema. Sebaiknya aku bergegas pulang. Sepotong cinta itu masih untuknya. Menunggu tergilas atau akan aku bawa terus menerus, hingga senja berganti malam. Namun, mungkin sebaiknya, aku tidak membawanya lagi ketika malam telah berganti pagi.

konspirasi alam

Siang ini Bandung seperti dilekatkan dengan matahari. Panasnya bukan main. Bandung bukan kota dekat pantai, sekelilingnya gunung malahan, tapi panasnya sudah mau saingan sama Jakarta!!. Niah mendengus, ia menyeka keringat di dahinya. Ia sedang mengantri di kantin kampusnya, mengantri makan siang. Tiba-tiba, Kumala menyikut lengannya. Matanya memicing seakan-akan memberitahu Niah seseorang datang. Seseorang yang bisa saja berkaitan dengan Niah atau Kumala.

Kumala berbisik pelan, “Ada Jalu..”. Niah menghenyak, ternyata seseorang yang berkaitan dengannya. Niah menoleh, Jalu berjalan ke arahnya, ia tak sadar bahwa Niah berdiri disitu. Niah ragu seketika, jantungnya berdebar tak karuan. Namun, urung juga ia meragu, Niah tersenyum dan menyapa lelaki berkemeja flannel kotak-kotak itu.

“Hey..” sapa Jalu membalas Niah. Jalu tampak berbeda. Niah tahu Jalu berbeda. Rambutnya dan sekedar frame kacamatanya. Sekedar berbasa-basi, kemudian Jalu terduduk di hadapan Niah.

Niah bingung, ia panik. Seakan sel-sel di otaknya kebingungan untuk mengeksekusi perintah. Niah kikuk. Ia seketika pergi dari antrian itu, meninggalkan Kumala yang mengantri. Kumala pasti sudah lebih dari tahu kenapa Niah kikuk.

Niah buru-buru duduk, ia takut kalau kalau Jalu melihat ia gemetaran. Niah mencuri pandang, Jalu seakan tak mengenal Niah. Jalu hanya tertawa dengan teman-temannya. Tidak seperti ketika Jalu selalu menemani Niah dengan setumpuk tugas-tugasnya berlaku juga sebaliknya, ketika Jalu selalu menyemangati Niah ketika Niah sedih atau tertawa mendengarkan cerita-cerita Niah hingga masing-masing mereka lelah lalu berpamitan untuk tidur. Meski sebenarnya Niah tidak tahu, Jalu juga mencuri pandang untuknya. Jalu pura-pura sok kuat. Seperti itulah Jalu.

Niah dan Jalu pernah merangkai sebuah cerita yang singkat. Cerita yang tidak disangka-sangka oleh Niah dan juga Jalu. Yang hanya Niah tahu, hati Jalu terbawa pada seseorang yang lain disana. Niah mengalah. Meski merasuk, ia harus memendam rasanya untuk Jalu. Jalu berpaling, meski Niah merasuk. Sedalam apapun. Niah mengalah. Niah masih belum yakin, apakah mungkin ia dan Jalu akan bertemu lagi suatu hari nanti. Niah masih belum yakin, kisahnya berakhir tragis seperti orang yang berpisah kemudian saling membenci. Niah yang lugu.

Dan ketika Niah berusaha sekuat tenaga melupakan semua tentang Jalu. Selalu ada saja kejadian seperti seakan alam berkonspirasi, begitu kata Kumala. Ada saja seperti waktu membuat Niah tidak sengaja teringat dengan Jalu atau seperti takdir ketika mereka harus berpapasan. Seperti tadi siang.

Niah menoleh terbuyar dari lamunannya, Jalu sudah tidak di tempat duduknya semula. Ia pergi. Pergi tanpa memberi tahu Niah, seakan mereka kembali menjadi orang-orang asing yang tak kenal satu sama lain. Niah melihat Kumala menatapnya. Niah hanya mengangkat bahunya, ia beranjak menghampiri Kumala.

Bandung masih tetap panas, Niah menyeka keringatnya sekali lagi.

Hidup seperti itu..