kita (mungkin) 50 tahun lagi.
Aku masih ingin sekedar ditemani belanja kebutuhan sehari-hari lagi, ditemani olehmu. Kita menyusuri lorong-lorong supermarket itu, mencari mana barang yang lebih murah dan berpura-pura menjadi sepasang suami istri.
Bagaimana kau membawakan meski-hanya dua kilo beras yang kubeli, dengan gagahnya, kau menawarkan diri untuk membawakan itu. “Semacam barbel, lumayan..” ujarmu sambil diiringi tawa. Aku juga ingat bagaimana kau mendorongkan troli saat aku terlalu sibuk mencentang ceklis belanjaan itu. Kau berkelakar, “Lampu di rumah masih ada, Mah? Kita beli apa lagi ya?”
Aku tersenyum malu-malu. Kau tak tahu apa yang kupendam waktu itu. Tubuhku memendam endorfin yang melunjak, aku bahagia meski kita berpura-pura jadi suami dan istri. Kau masih tak tahu apa yang kupendam.
Dan aku ingin ditemani sekedar pergi menelusuri lorong-lorong itu hingga kita tak sanggup lagi untuk berjalan menyusuri lorong-lorong itu. Dengan kondisi, kita sudah menjadi kita, kau adalah suaminya dan aku istrinya. Tak lagi pura-pura, kau masih tetap akan mendorongkan troli dan aku sibuk memilih barang. Aku pasti akan cerewet tentang barang ini atau itu. Kau juga ribut aku tidak boleh sembarangan beli macam-macam. Aku juga akan cerewet tentang ini itu ketika memilih sayuran, dan kau akan menatap aku penuh cinta, dengan kelakarmu yang biasanya, kau berkata, “cepat pilih sayurnya, aku lapar berat, Sayang..” atau kau ikut-ikutan serius memilih sayur mana yang ingin kau makan. Diskusi tentang apa yang akan kita makan malam nanti.
Atau, aku menggamit lenganmu yang besar itu, yang pernah kau tawarkan padaku sebelum-sebelumnya padahal lenganmu masih kurus hanya tulang.
Oke, aku akan menggamit lenganmu, sekeliling kita adalah pasar. Pasar tradisional yang semoga sudah berkembang sedikit lebih canggih dan tidak kumuh. Bosan aku pergi ke supermarket, harganya sudah semakin menjulang. Kembali, kita memilih apapun itu, aku yang ingin kau di sebelahku, menemani aku. Lalu pulang, dengan pikiran masing-masing. Menghabiskan lagi malam yang semoga tak akan pernah bosan kita lewatkan.
Mungkin juga, aku ingin, kita menyusuri pasar-pasar loak itu. Mencari barang antik seperti vinyl-vinyl cantik itu. Aku cinta sekali barang antik, kau tahu itu.
Mesin ketik, buku-buku tua, vas bunga atau radio tua.
Kau akan tersenyum sambil merangkul pundakku, mengangguk padaku atau menggeleng tak setuju saat mataku berbinar melihat buku tua dari Rusia atau vinyl Edith Piaf.
Seperti saat itu, kau menemani aku yang berbinar-binar melihat pemutar piringan hitam, lalu aku beli secara tiba-tiba. Padahal waktu itu, kau yang minta antar pergi tapi aku yang belanja. Kau tersenyum, membandingkan kegilaanku denganmu saat aku yang gantian bengong kau borong seperangkat Pentax. Kita tenggelam, menggila, bersama.
Lalu, mungkin kita akan punya pekarangan di belakang rumah. Tempat aku akan mendengarkan musik dan mengetik sebongkah ide menjadi buku. Sementara kau akan melukis. Aku ingin menemanimu melukis, meski sampai nanti aku tak akan pernah tahu apa komposisi garis, warna dan bahkan goresan. Aku masih ingin pergi lagi ke galeri lukis, sambil kau berbinar menceritakan interpretasimu tentang seni. Aku akan hanya terpana lalu merengek pulang ketika jam sudah sangat larut. Ketika kaki kita pegal, dan kusuguhkan kembali dua cangkir susu hangat.
Bicara tentang susu, kau adalah makhluk ajaib yang tak suka susu dicampur keju. Kita adalah manusia penganut aliran serupa karena aku pun mual makan keju dan susu. Maka, mungkin aku tidak akan masak pasta untuk makan malam kita. Tidak akan sepertinya, ritual makan pasta itu mungkin hanya terjadi satu tahun sekali atau saat kita pergi ke Eropa menjenguk anak kita.
Meski begitu, aku masih ingin melihat kau melahap habis semua makanan karena kau adalah orang yang aku kenal sanggup makan apa saja. Bahkan termasuk mau berkorban. Termasuk nasib saus kacang yang tak kau sukai ketika kita pergi sarapan bersama kala itu. Sambil menahan mual, kau masih saja tersenyum begitu tahu aku yang suka. Kau juga bukan kaum antisayur atau antidaging, kau adalah ‘omnivora’ meski kau juga akan kembung ketika makan lada dan terkentut-kentut.
Aku baru tahu, ketika kau bercerita dengan seriusnya sambil mencampurkan setengah botol saus cabai pada semangkuk mie waktu itu. Bahwa kau bisa makan cabai, tapi tak bisa makan lada. Selera makan kita berbeda, karena aku tak suka cabai. Dan untuk itu, mungkin aku ingin belajar memasak dengan cabai. Supaya kau bisa tetap makan, atau sekiranya saus cabai itu akan ada dalam ceklis belanja bulanan kita. Aku mungkin juga akan belajar makan cabai sementara kau juga akan makan kacang.
Sesekali, kau juga akan memasak, memberi kejutan untukku seperti kau bisa-bisanya membuatkanku bubur terenak sedunia waktu kubilang aku sakit. Kau tak sempat bilang kalau kau tak bisa memasak. Lalu kau datang ke rumahku, mengetuk pintu kamarku, menemukanku yang menjerit malu kau datang ke rumahku. Aku tak mau makan, tapi kau memaksa. Dan bubur itu adalah bubur terenak sedunia.
Biarlah kau tak bisa main gitar, tapi kau tahu beda lengkuas dan jahe, yang mana kencur dan kunyit, atau ketumbar dan lada. Biarlah, kau juga tak seperti bapak-bapak lain yang bangun tengah malam untuk nonton bola karena kau memang berbeda. Tapi kau mungkin akan membangunkanku untuk shalat malam berjamaah dan mungkin aku yang menonton bolanya, sementara kau akan kembali tidur atau menemaniku sambil terbalik bengong sama seperti aku mendengar interpretasimu tentang lukisan. Biarlah, kau juga anomali tak suka naik gunung, kau lebih senang berlumur oli berkutat dengan motor di garasimu atau menggambar sketsa di atas meja kerjamu. Meski kau akan risih, ketika si Abu kucing peliharaanmu mengeong manja.
Mungkin, kita akan tetap menjadi kita. Menjadi bijaksana, menjadi dewasa dan kita tetap bersama. Mungkin, hingga 50 tahun ke depan. Entah, hidup masih berlanjut atau tidak, terwujud atau tidak.
Tapi tahukah rumah yang kutuju? Itu kau..
